BERITA

Predikat Terbaik dan Terinspiratif untuk Sumbawa dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi

Sabtu, 24 Agustus 2019   admin   1024  

Penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit. Anak stunting berisiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.

Mengacu pada “The Conceptual Framework of the Determinants of Child Undernutrition”, “The Underlying Drivers of Malnutrition” , dan “Faktor Penyebab Masalah Gizi Konteks Indonesia”  penyebab langsung masalah gizi pada anak termasuk stunting adalah rendahnya asupan gizi dan status kesehatan. Penurunan stunting menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi.

Dampak dari stunting diantaranya yakni dalam jangka pendek, stunting menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme.dan dampak  jangka panjang, stunting menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen dan menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah yang akan berpengaruh pada produktivitasnya saat dewasa. Selain itu, kekurangan gizi juga menyebabkan gangguan pertumbuhan (pendek dan atau kurus) dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung kroner, dan stroke.

Upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan. Penurunan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh, yang harus dimulai dari pemenuhan prasyarat pendukung. Kerangka konseptual Intervensi penurunan stunting terintegrasi

Pemerintah kabupaten/kota diberikan kesempatan untuk berinovasi untuk menambahkan kegiatan intervensi efektif lainnya berdasarkan pengalaman dan praktik baik yang telah dilaksanakan di masing-masing kabupaten/kota dengan fokus pada penurunan stunting. Target indikator utama dalam intervensi penurunan stunting terintegrasi adalah:1). Prevalensi stunting pada anak baduta dan balita.2).        Persentase bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) 3)         Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita. 4). Prevalensi wasting (kurus) anak balita. 5)Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif. 6). Prevalensi anemia pada ibu hamil dan remaja putri. 7). Prevalensi kecacingan pada anak balita. 8). Prevalensi diare pada anak baduta dan balita. Melalui kesempatan tersebut Pemerintah Provinsi  bekerjasama dengan Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi) NTB dan SNV Netherlands Development Organization melaksanakan penilaian Kinerja Kabupaten dalam Upaya Pencegahan dan Penurunan Stunting kegiatan tersebut diselenggarakan bertempat di Hotel Grand Legi Mataram pada tanggal 20-22 agustus 2019.  Pada acara tersebut  Kabupaten Sumbawa pada mendapat predikat sebagai  ”Kabupaten Terbaik dan terinspiratif dalam upaya menurunkan Angka Stunting”. Predikat tersebut diberikan pada acara penilaian Kinerja Kabupaten dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi di NTB yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTB. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, angka stunting di Kabupaten Sumbawa pada tahun 2017 berdasarkan hasil pemantauan status gizi Bappenas dan Kemenkes RI, menempati urutan tertinggi dari 10 Kab/Kota di NTB yakni mencapai 41,92 persen. Namun pada tahun 2018, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, angka tersebut turun menjadi 31,53 persen. Adapun data yang diperoleh dari Pekan Penimbangan, dimana semua balita di Kabupaten Sumbawa diukur dan ditimbang, stunting di Kabupaten Sumbawa turun signifikan menjadi 11,87 persen pada Bulan November 2018.

  • Share on :

  • Berita Lainnya
  • Pemerintah Kabupaten Sumbawa Gelar Musrenbang Tematik: Perkuat Tata Kelola Lahan dan Air untuk Adaptasi Perubahan Iklim

    Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama Plan Indonesia menyelenggarakan Musrenbang Tematik untuk memperkuat pengelolaan lahan berkelanjutan dan sumber daya air terpadu sebagai upaya meningkatkan ketahanan lingkungan serta adaptasi terhadap perubahan iklim melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat.

    Satu Tahun Pemerintahan Jarot-Ansory Berbagai Infrastruktur Pertanian Terealisasi

    Sumbawa, SelarasNews.id – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, memaparkan capaian satu tahun masa pemerintahan Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot dan Wakil Bupati Sumbawa, Mohamad Ansori. Ia menyampaikan janji politik yang tertuang dalam 12 program unggulan telah masuk ke dalam dokumen perencanaan resmi dan sebagian besar telah mulai terlaksana bahan sudah cukup banyak yang terealisasi.

    Target Layani 200 Ribu Jiwa di Sumbawa, 122 Unit SPPG Tuntas Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    Sumbawa, SelarasNews.id – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sumbawa terus memacu akselerasi program penguatan gizi masyarakat melalui penyediaan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau yang dikenal dengan Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis ini dilakukan guna memastikan terpenuhinya kebutuhan nutrisi bagi ratusan ribu warga di Tanah Intan Bulaeng.